Sidrap, padangpos.com – Di Stadion Ganggawa, sore hari sekarang punya agenda tetap.
Bukan cuma sepak bola.
Tapi juga tontonan tentang bagaimana sebuah turnamen daerah bisa berubah menjadi ruang berkumpul paling ramai di Sidrap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak Sidrap Cup 2026 bergulir awal Juni lalu, satu hal yang hampir tak pernah berubah adalah suasana tribun.
Selalu penuh.
Selalu hidup.
Selalu berisik dalam arti yang menyenangkan.
Yang menarik, keramaian itu tidak seluruhnya datang dari fanatik sepak bola.
Ada wajah-wajah baru yang ikut meramaikan stadion.
Anak sekolah.
Mahasiswa.
Komunitas.
Dan tentu saja, para gadis yang sore-sore memilih Stadion Ganggawa sebagai tujuan nongkrong mereka.
Jika dulu stadion identik dengan teriakan keras kaum pria, kini suasananya berbeda.
Di tribun, suara sorakan bercampur dengan suara kamera ponsel yang terus berbunyi.
Sesekali terdengar teriakan saat pemain berhasil melewati lawan.
Tak lama kemudian terdengar pula kalimat yang lebih akrab di telinga generasi sekarang.
“Coba foto lagi, tadi kurang bagus.”
Begitulah.
Sepak bola dan gaya hidup sedang bertemu di Stadion Ganggawa.
Banyak yang datang karena ingin menonton pertandingan.
Tapi tidak sedikit yang akhirnya menikmati seluruh suasana yang tercipta di sekelilingnya.
Ada yang sibuk mendukung klub favorit.
Ada yang sibuk mencari pemain idola.
Ada yang justru lebih fokus mencari spot terbaik untuk berfoto dengan latar lapangan hijau.
Tidak ada yang salah.
Karena stadion memang sedang menjadi tempat berkumpul.
Semacam alun-alun modern yang kebetulan ada pertandingan sepak bola di tengahnya.
Beberapa wartawan yang rutin meliput pertandingan bahkan mulai hafal pola itu.
Menjelang kick off, tribun bagian timur biasanya mulai dipenuhi penonton perempuan.
Jumlahnya kadang membuat orang lupa bahwa yang sedang berlangsung adalah turnamen sepak bola antarklub Sulselbar.
Mereka datang berkelompok.
Empat orang.
Lima orang.
Kadang lebih.
Membawa minuman, makanan ringan, dan tentu saja ponsel yang baterainya sudah terisi penuh sejak dari rumah.
Ketika pertandingan berlangsung sengit, mereka ikut berteriak.
Ketika pertandingan melambat, mereka kembali bercengkerama.
Stadion terasa lebih cair.
Lebih ramah.
Lebih membumi.
Inilah sisi lain Sidrap Cup 2026 yang mungkin tidak masuk dalam statistik pertandingan.
Tidak tercatat berapa jumlah operan sukses.
Tidak ada data berapa kali tepuk tangan terdengar.
Tidak ada catatan resmi berapa banyak senyum yang muncul di tribun setiap sore.
Padahal, justru itulah yang membuat turnamen ini terasa hidup.
Kini kompetisi sudah memasuki babak delapan besar dan sebentar lagi menuju semifinal.
Persaingan di lapangan semakin panas.
Perebutan tiket final semakin ketat.
Namun di luar garis lapangan, Stadion Ganggawa tetap menyajikan cerita yang sama.
Tentang masyarakat yang kembali menemukan hiburan murah meriah.
Tentang sepak bola yang kembali menjadi pesta rakyat.
Dan tentang tribun yang, tanpa disadari, ikut menjadi panggung kecil bagi gadis-gadis yang membuat suasana stadion terasa lebih berwarna.
Karena ternyata, di Sidrap Cup 2026, yang menarik perhatian bukan hanya pemain yang berlari mengejar bola.
Kadang-kadang, mata penonton juga tertuju ke tribun. (*)













